“The future of Global Infrastuktur
Vision forward sustainable cities”
Hari/tanggal : Rabu, 5
april 2017
Tempat :
Universitas Gunadarma kampus D
Pembicara : 1. Dr.
Muhammad Cholifihani SE,MA.
2. Ahmad Nur Fauzie (PT. JAKARTA
INDUSTRAL ESTATF PULOGADUNG)
3.
Trisnadi Yurisman
4.
Ibrahim Shoukry
Moderator : Muhammad Rizky Rizaldy
Pada
tanggal 25 september 2015 di sekertariat PBB, New York membahas mengenai
pertumbuhan ekonomi yang eksklusif yang berkelanjutan, ada 17 butir agenda
berkelanjutan untuk tahun 2030. Karena pada tahun 2030 pembangunan tata kota
akan bertumbuh. Ada 7 kata prinsip kota hijau yang berkelanjutan:
1. Akses
terhadap perumahan yang layak
2. Akses
transport terjangkau dan aman
3. Urbanisasi
yang berkelanjutan
4. Kesehatan
5. Kelestarian
lingkungan
6. Ruang-ruang
public yang layak
7. Warisan
budaya dan alam
Menurut RPJMN Kebutuhan infrastuktur
perumahan yang ada di Indonesia mencapai rp. 4.796 triliun . kebutuhan rumah
untuk memenuhi pertu,nuhan penduduk sebesat 800.000 unit per tahun, sementara
kekurangan rumah dalam 20 tahun untuk memenuhi blaclog kebutuhan rumah sebesar
585.000 pertahun. Jadi total kebutuhan rumah 1.385.000munit pertahun. Sementara
ada maslah urbanisasi terkait perumahan yaitu:
1. Pertumbuhan
rata-rata populasi masyarkat perkotaan mencapai 4,1% pertahun (2000-2010)
2. Pada
tahun 2012populasi masyarakat perkotaan mencapai 52% dari total populasi
3. Keterbatasan
APBN, produktivitas tenaga kerja yang rendah, tingginya ketimpangan, dan
kekurangan ketersediaan rumah yang terjangkau akan mengurangi keuntungan dari
terjadinya urbanisasi.
4. Kekurangan
ketersediaan rumah yang terjangkau menjadi masalah perkotaan seperti
peningkatan daerah kumuh.
5. Di
perkirakan 22% masyarakat Indonesia tinggal di daerah kumuh.
Kemampuan membeli rumah di Indonesia :
1. 40%
dengan jumlah penghasilan Rp. 7,1-20 juta bisa membeli rumah sendiri
2. 40%
dengan jumlah penghasilan Rp. 3,6-6 juta memiliki kemampua membeli
rumah dengan bantuan pemerintah (subsidi)
3. 20%
dengan jumlah penghasilan Rp. 2,3-4,9 juta tidak memiliki kemampuan sama sekali
untuk membeli rumah.
Kondisi pasar pembiayaan syariah
pertumbuhan di Indonesia terjadi peningkatan outstanding KPR syariah
setiap bulanya. Pada bulan desember 2016 data menunjukan outstadinng
KPR syariah sebesar Rp. 51.195 miliar, lebih besar dari bulan November 2016
yaitu sebesar Rp. 50.408 miliar, peforma KPR syaria pun dinilai baik, terlihat
dari nilai KPR syariah cukup rendah yaiyu 2,91% pada bulan desember 2016 lebih
rendah dari bulan sebelumnya yaitu sebesar 2,48%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar