Kamis, 09 Maret 2017

SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA

SEJARAH EKONOMI INDONESIA

Dalam pidato yang diucapkan oleh Wakil Presiden RI dalam konferensi ekonomi di Yogya pada tanggal 3 Pebruari 1946 dikatakan bahwa dasar politik perekonomian RI terpancang dalam UUD 1945 ”untuk memajukan kesejahteraan umum”. Terdapat pada pasal 33 yang berisi :
·         Ayat 1       : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
·         Ayat 2       : Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup      orang   banyak dikuasai oleh negara.
·         Ayat 3       : Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Perekonomian Indonesia di bagi 4 periode :    

1. Pemerintahan Orde Lama (1950-1996)
Keadaan perekonomian Indonesia pada saat itu sangat buruk, politik tidak mendukung pembangunan Indonesia yang dikenal dengan istilah Mercusuar. Dikarenakan selama dekade 1950-an hingga pertengahan tahun 1965, Indonesia dilanda gejolak politik di dalam negeri dan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah. Walaupun sempat mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata per tahun hampir 7 % selama dekade 1950-an, dan setelah itu turun drastis menjadi rata-rata per tahun hanya 1,9% atau bahkan nyaris mengalami statgflasi selama tahun 1965-1966. Selain itu, selama periode orde lama, kegiatan produksi di sektor pertanian dan sektor industri manufaktur berada pada tingkat yang sangat rendah. Pada saat itu pemerintah lebih banyak membangun proyek-proyek besar seperti Monumen Nasional, Istora Senayan, Kali malang, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan adanya demonstrasi seperti tuntutan mahasiswa ”TRITURA”.

2. Pemerintahan Orde Baru (1966-Mei 1998)
Masa pemerintahan Soeharto, masa dimana Indonesia melakukan pembangunan. Dalam era orde baru perhatian pemerintah lebih ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pembangunan ekonomi dan sosial di tanah air. Dengan tujuan stabilisasi, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan penduduk. Maka itu lah Soeharto disebut sebagai Bapak Pembangunan.

3. Pemerintahan Transisi (Mei 1998-November 1999)
Di masa ini terjadi krisis rupiah yang menjelma menjadi krisis ekonomi akhirnya juga memunculkan suatu krisis politik yang dapat dikatakan terbesar dalam sejarah Indonesia sejak merdeka tahun 1945.

4. Pemerintahan Reformasi (2000-2001)
Pada awal pemerintahan reformasi yang dipimpin oleh presiden Wahid, masyarakat umum dan kalangan pengusaha serta investor, termasuk investor asing, menaruh pengharapan besar terhadap kemampuan dan kesungguhan Gus Dur untuk membangkitkan kembali perekonomian nasioanal dan menuntaskan semuan permasalahan yang didalam negeri warisan rezim orde baru, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), supremasi hukum, hak asasi manusia (HAM), penembakan tragedi trisakti, semanggi I dan II, peranan ABRI di dalam politik, dan masalah disintegrasi.

Memetakan sejarah ekonomi kreatif di Indonesia berarti melakukan kilas balik ke masa satu dekade silam ketika studi mengenai keberadaan industri kreatif mulai dilakukan. Studi itu dihelat pertama kali oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia (Depdagri) pada tahun 2007. Pertimbangan kuat perihal urgensi dilakukannya studi ini adalah keberadaan sektor industri kreatif di beberapa negara yang berkontribusi besar pada jumlah gross domestic product (GDP) dan pertumbuhan industri kreatif itu sendiri yang berlangsung relatif tinggi.

Di Singapura, misalnya, industri kreatif menyumbang nilai GDP sebesar 2,8 persen dengan tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor ini sebesar 3,4 persen. Di Inggris, kontribusi pada GDP sebesar 7,9 persen dengan tingkat pertumbuhan mencapai 16 persen.

Keberadaan industri kreatif yang tidak lagi dipandang sebelah mata ini kemudian mengubah paradigma ekonomi dunia. Awalnya, ekonomi dunia digerakkan dengan komoditas dominan merupakan hasil pertanian. Sehingga pada masa tersebut dikenal sebagai ekonomi agraris atau ekonomi pertanian.

Seiring ditemukannya mesin uap, disusul dengan revolusi industri di Inggris, mengubah paradigma ekonomi pertanian ini menjadi ekonomi industri. Pada fase ini, industri bergerak pada sektor-sektor manufaktur dimana mesin-mesin mulai menggantikan peran manusia. Negara-negara maju dihuni oleh negara-negara raksasa industri. Sebaliknya, negara miskin atau dikenal dengan negara dunia ketiga, sebagian besar masih mengandalkan ekonomi pertanian.

Kemudian, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi berhasil mengubah peta dunia. Dunia seakan dibuat tanpa mengenal batas-batas territorial sebagaimana yang terjadi pada fase ekonomi indsutri dan ekonomi pertanian. Sekat-sekat negara itu hilang akibat ditembus oleh arus informasi yang deras karena keberadaan jaringan internet. Pada era ini, pemenang kompetisi ditentukan oleh siapa yang menguasai informasi. Sehingga pada akhirnya, paradigma yang berlaku disebut sebagai ekonomi informasi.

Kini, muncul pandangan bahwa ekonomi tak seharusnya terus bergantung kepada keberadaan bahan baku, jarak distribusi, modal kapital dan sebagainya. Sebagai alternatif, muncul gagasan bahwa gagasan atau ide adalah modal itu sendiri. Sehingga yang diperlukan adalah memperluas ekonomi ke sektor layanan atau sektor jasa. Dengan demikian, keberadaan barang modal dalam bentuk fisik mulai direduksi.

Pandangan ini menilai, ruh utama untuk melahirkan gagasan itu adalah adanya kreatifitas. Kreatifitas lalu menjadi pijakan utama dalam membangun kota yang mampu menyelesaikan permasalah kota dengan cara yang kreatif serta mengubah kesulitan-kesulitan menjadi kesempatan-kesempatan. Pandangan ini sekarang kita kenal sebagai paradigma ekonomi kreatif.

Ekonomi kreatif memusatkan diri pada dinamika ekonomi di sektor industri kreatif. Sebagaimana dikemukakan di awal, industri kreatif yang kini mulai menampakkan tajinya, menjadi semacam isu seksi yang diperbincangkan dan diupayakan di banyak negara. Salah satunya Indonesia yang mengawali perhelatan di sektor kreatif dengan mengadakan studi yang digelar Depdagri. Hasilnya, industri kreatif pada periode 2002-2006 berhasil menyumbang GDP Indonesia sebesar Rp104,638 Triliun. Jumlah itu menempatkan sektor industri kreatif di posisi 7 dari 10 sektor yang dianalisis. Dengan kata lain, ia berada di atas rata-rata kontribusi di sektor pengangkutan dan komunikasi; bangunan; serta listrik, gas, dan air bersih.

Pada kurun waktu yang sama, sektor industri kreatif mampu menyerap rata-rata sebesar 5,4 juta pekerja pertahunnya. Pada tahun 2006, sektor ini memiliki perusahaan sebanyak 2,2 juta atau sekitar 5,17 persen dari jumlah total perusahaan di Indonesia. Di tahun yang sama, sektor ini sukses membukukan nilai ekspor sebesar Rp81,5 triliun atau setara 9,13 persen dari nilai total ekspor nasional. Selain itu, dalam kajian tersebut juga disebutkan 14 subsektor untuk sektor industri kreatif, antara lain: periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antik; kerajinan; desain; fashion (mode); film, video, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; radio dan televisi; serta riset dan pengembangan.

Depdagri merespons hasil studi itu dengan menerbitkan “Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015” pada tahun 2008. Rencana itu mendapat dukungan dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan memberikan payung hukum bagi ke-14 subsektor tersebut berupa Instruksi Presiden RI Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.


Sumber :
http://tytarizqah.blogspot.co.id  (tanggal 3 maret 2017 ( 13.05))
 (13.15)

Berita Terkini
Berita 1
Ekonomi RI Diprediksi Aman Meski Suku Bunga AS Naik di Maret
Liputan6.com, Jakarta Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) pada Maret 2017.
Bank Indonesia (BI) menegaskan kebijakan tersebut tidak akan berdampak besar terhadap Indonesia karena fundamental makro ekonomi yang sehat.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan, rencana penyesuaian tingkat bunga The Fed dari hasil Federal Open Market Committee (FOMC) semakin bulat di Maret ini, sampai dengan 90 persen.
"Ini merupakan satu perkembangan yang perlu kita waspadai," ujar Agus usai Rapat Pansel Calon Anggota Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (6/3/2017).
Akan tetapi, Agus mengaku, pelaku pasar atau investor sudah price in atau mengantisipasi rencana kenaikan suku bunga AS di bulan ketiga ini.
Sebelumnya suku bunga AS telah naik 0,25 persen pada Desember, dan itu kenaikan suku bunga kedua kali dalam 10 tahun. Saat ini suku bunga the Fed di kisaran 0,5 persen-0,75 persen.

"Secara umum, pasar sudah price in FFR akan naik di Maret karena komunikasi yang cukup baik dan kajian dari pasar yang cukup luas terkait itu," dia menegaskan.
Agus Marto memperkirakan dampak kenaikan tingkat bunga The Fed tidak akan besar untuk Indonesia. Alasannya, negara ini memiliki stabilitas sistem keuangan dan kinerja makro ekonomi yang sehat.
"Kita meyakini dampaknya tidak besar kepada Indonesia, karena stabilitas sistem keuangan dan kinerja makro ekonomi kita cukup baik. Kita pun akan merespons dengan baik kondisi (kenaikan FFR) secara umum," dia menjelaskan.
Dia menuturkan, stabilitas perekonomian nasional ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca pembayaran, defisit transaksi berjalan yang terjaga dengan baik.

"Dengan demikian, risiko capital reversal (pelarian modal) ataupun tekanan yang tidak kita kehendaki tidak terjadi," Agus menegaskan.(Fik/Nrm)

Berita 2

Kontribusi Sektor Keuangan Diprediksi Terus Meningkat di 2017

Hafid Fuad, Rabu,  22 Februari 2017  −  15:36 WIB
Ekonom meyakini Industri Jasa Keuangan akan tumbuh positif dan berkontribusi positif kepada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di 2017.

JAKARTA - Ekonom meyakini Industri Jasa Keuangan akan tumbuh positif dan berkontribusi positif kepada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di 2017. Sektor ini tercatat menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi nasional 2016 seperti yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) awal Februari ini.
Menurut BPS sektor Jasa Keuangan dan Asuransi tumbuh sebesar 8,9 % atau tertinggi dibanding sektor lain seperti Informasi dan Komunikasi dan Jasa lainnya. Ekonom dari Indef Eko Listiyanto mengatakan, kontribusi sektor jasa keuangan terus meningkat bagi perekonomian. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, porsi industri jasa keuangan khususnya perbankan dan asuransi di ekonomi terus meningkat.
"Secara umum sektor jasa keuangan dan asuransi berkontribusi 4,20% pada 2016 atau naik kontribusinya dibanding tahun lalu sebesar 4,03 % di 2015 dan 2014 sebesar 3,86 %. Dari sisi pertumbuhan sektor ini juga meningkat dalam tiga tahun terakhir karena pertumbuhan sektor jasa keuangan dan asuransi memang tertinggi di 2016 atau 8,9% (yoy)," terang Eko di Jakarta, Rabu (22/2/2017).          
Data BPS menyebutkan jasa perantara bank, bank umum dan BPR tumbuh 9,57 % di 2015 menjadi 9,82 % di 2016. Subsektor perbankan menguasai 60-70 % sektor jasa keuangan. Sementara sub sektor jasa keuangan lainnya seperti pegadaian, modal ventura, perusahaan pembiayaan tumbuh tinggi dari 7,98 % menjadi 9,24 %. 
“Kontribusi sektor keuangan meningkat, meskipun sektor ini bukan kontributor utama PDB atau belum masuk 5 besar. Tahun ini masih mungkin untuk meningkat seiring tetap positifnya pertumbuhan kelas menengah dan peran OJK sebagai otoritas dalam mendorong pertumbuhan sektor ini," jelas dia.  
Menurutnya, peran OJK sebagai otoritas yang mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan tentu sangat besar dalam meningkatkan pertumbuhan sektor menjadi yang tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi nasional 2016. Keberadaan OJK sejak 2013 diyakini telah berperan besar tidak hanya dalam mendorong kemajuan industri jasa keuangan dan menjaga stabilitasnya tetapi juga dalam kontribusi sektor jasa keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.             
Dewan Komisioner OJK periode pertama telah mengarahkan pengembangan sektor jasa keuangan dalam tiga aspek yaitu, kontributif, stabil dan inklusif. Arah pengembangan sektor jasa keuangan telah tercantum dalam Masterplan Sektor Jasa Keuangan 2015-2019               .
Aspek kontributif adalah mengoptimalkan peran sektor jasa keuangan dalam mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, aspek stabil adalah menjaga stabilitas sistem keuangan sebagai landasan bagi pembangunan yang berkelanjutan dan aspek inklusif adalah mewujudkan kemadirian finansial masyarakat serta mendukung upaya peningkatan pemerataan dalam pembangunan.       
Selama 2013 sampai September 2016, OJK telah menerbitkan regulasi di sektor jasa keuangan sebanyak 142 Peraturan OJK dan 119 Surat Edaran OJK. Serta meluncurkan berbagai program strategis seperti Laku Pandai, Jaring, Layanan Keuangan Mikro, Simpanan Pelajar, Sistem Perijinan dan Registrasi Terintegrasi, Tim Percepatan Akses Keuangan Pemerintah Daerah (TPAKD) dan Satgas Waspada Investasi.


Berita 3
Harga Minyak Kembali Jatuh Tertekan Penguatan Dolar AS

VIVA.co.id – Harga minyak mentah dunia anjlok sekitar dua persen pada perdagangan, Selasa, 10 Januari 2017. Harga minyak melanjutkan penurunan akibat penguatan dolar Amerika Serikat dan keraguan implementasi pemangkasan produksi minyak oleh OPEC. 
Dilansir CNBC, Rabu, 11 Januari 2017, harga minyak AS turun US$1,14 atau 2,2 persen di US$50,82 per barel. Itu merupakan harga terendah minyak sejak 7 Desember lalu. 
Sedangkan harga minyak mentah Brent anjlok US$1,26 atau 2,3 persen menjadi US$53,68 per barel. 
Irak, produsen minyak terbesar kedua OPEC, menyatakan akan menaikkan ekspor minyak mentah dari pelabuhan Basra pada Februari nanti. Ekspor minyak Basra stabil mendekati rekor tertinggi sejak awal Januari, meski Irak telah sepakat untuk memangkas produksi pada 1 Januari. 
"Pasar minyak berkonsolidasi di level terendah setelah keraguan muncul terhadap pemenuhan pemangkasan produksi, sementara ekspor Irak tetap tinggi," kata Tim Evans, spesialis bursa berjangka energi dari Citigroup. 
Nilai tukar dolar AS terus menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya. Hal ini menyebabkan harga komoditas tertekan. Sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden AS, mata uang dolar sudah menguat lebih dari tiga persen. (ase)  







STRUKTUR ORGANISASI PT.ASABRI

STRUKTUR ORGANISASI PT.ASABRI MATA KULIAH SUMBER DAYA MANUSIA Sumber :   http://asabri.co.id/page/6/Struktur_Organisasi