Kamis, 11 Januari 2018

Ekonomi Koperasi


Nama        : Debby Silvia Putri
NPM          : 21216756
Kelas         : 2EB19
1.    Perkembangan Ekonomi Koperasi Indonesia
Sejak dimulai pada tahun 1896 di Jawa Tengah oleh R. Aria Wiriatmadja, ekonomi koperasi di Indonesia telah banyak mengalami perkembangan. Kali ini Indonesia sudah menjadi negara yang merdeka, tidak lagi berada dibawah kekuasaan kolonial seperti pada awal koperasi berdiri. Seiring dengan perkembangannya, koperasi telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia.
Karena koperasi bergerak dalam berbagai sektor, memberikan lapangan kerja yang tersebar, berperan dalam pemberdayaan masyarakat melalui bisnis mikro, menciptakan pasar dan lapangan kerja yang mendukung munculnya inovasi baru, serta memberikan sumbangan bagi neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Maka, peran ekonomi koperasi dalam UMKM sangat strategis.
Karena perkembangan inilah, ekonomi koperasi diperkirakan akan mengalami peningkatan yang matang dan signifikan di masa depan. Untuk itu, diperlukan komitmen dari pemerintah dalam membangun koperasi dengan tetap mempertahankan prinsip dan jatidiri koperasi. Salah satu komitmen itu adalah dengan turut memberdayakan koperasi, yaitu dengan memberikan pendidikan dan pemahaman tentang ekonomi koperasi. Hal ini akan membuat koperasi yang tidak aktif dapat memperbaiki sistem kerja dan organisasinya untuk dapat aktif, dan membuat operasi yang sudah aktif semakin memperbaiki kualitas dirinya. Maka, koperasi akan dapat bersaing di dunia internasional, terutama di bidang ekspor-impor dan negara berkembang. Karena ekonomi koperasi menganut prinsip gotong-royong yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Berikut adalah contoh berita tentang perkembangan koperasi di Indonesia:


Kementerian Koperasi Bakal Kembangkan Model Desa Wisata


Desa Ngadas di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Istimewa)
Liputan6.com, Jakarta - Pariwisata merupakan industri yang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi nasional. Hal itu terlihat dari sektor pariwisata selalu mengalami pertumbuhan dan mampu mempertahankan pertumbuhannya tersebut setiap tahun.

Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini mengatakan, selama beberapa tahun terakhir , sektor pariwisata membuat kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu sektor ini mampu menjadi pencetak banyak lapangan kerja dan devisa bagi negara.

Dia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015 jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia mencapai 10,41 juta kunjungan. Angka ini melampaui target yang ditetapkan pemerintah yaitu sebesar 10 juta kunjungan.

Sementara pada 2016, Kementerian Pariwisata menetapkan target kunjungan wisatawan ke Indonesia mencapai sebesar 272 juta wisatawan. Jumlah tersebut terbagi atas 12 juta wisatawan mancanegara dan 260 juta wisatawan nusantara.
"Dari kunjungan wisatawan mancanegara tersebut, kami memproyeksikan Indonesia akan menerima pendapatan devisa sebesar Rp 172 triliun. Kemudian, untuk wisatawan nusantara ditargetkan jumlah pengeluaran mencapai Rp 223 triliun," ujarnya di Jakarta, Rabu (6/4/2016).

Untuk mengimbangi target tersebut, lanjut Oneng, setiap destinasi wisata harus bersolek dengan baik agar mampu bersaing dalam mendapatkan kue belanja wisata nasional. Daerah-daerah harus berlomba menawarkan keunggulan potensi wisatanya, mulai dari perhotelan, kapal wisata, agrowisata, wisata alam, kuliner dan sebagainya.

"Namun pengelolaan bisnis wisata ini didominasi swasta baik oleh modal asing maupun investor lokal yang kurang menyentuh kesejahteraan masyarakat sekitar. Sementara koperasi menjadi salah satu badan hukum Indonesia, namun masih minoritas dalam bisnis pariwisata," kata dia.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan telah mendorong keterlibatan koperasi masuk mengelola dan mengembangkan 
destinasi pariwisata. Tujuannya, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan pariwisata berbasis komunitas sehingga menyejahterakan anggota koperasi dan masyarakat sekitar objek pariwisata.

"Kemenkop UKM menjadikan pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata sebagai program unggulan. Kemenkop memberikan fasilitas dan bantuan yang bersifat stimulan sebagai modal koperasi," ungkapnya.

Wayan menyatakan, pihaknya juga secara serius mengembangkan model desa wisata yang dikelola oleh koperasi. Ada delapan desa wisata yang mendapat pembinaan Kemenkop UKM, yaitu Kabupaten Samosir, Sumatera Utara; Desa Sesaot dan Desa Banyumulek di NTB; Taman Laut 17 Pulau Kabupaten Ngada dan Pulau Komodo Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur; Kampung Mempura, Riau; Danau Lut Tawar, Aceh Tengah; Candi Borobudur, Magelang.

"Koperasi yang di masing-masing daerah wisata bergerak menjalankan berbagai usaha, antara lain penataan homestay, kapal wisata, penataan UKM sekitar obyek wisata," tandas dia. (Dny/Gdn)

2.    Pola Ekonomi Koperasi

Menaker Minta Koperasi Pekerja Dikelola secara Profesional


ilustrasi-koperasi
Liputan6.com, Jakarta Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri minta serikat pekerja di Indonesia bisa membentuk badan usaha koperasi yang profesional dan inovatif. Hal ini agar kesejahteraan pekerja tidak hanya bergantung dari apa yang didapatkan dari perusahaan tempatnya bekerja.
Hanif mengatakan, koperasi sebenarnya bisa menjadi badan yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja di sebuah perusahaan.
Sebab, dengan menjadi anggota, pekerja bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari sisa hasil usaha (SHU), juga mendapatkan pinjaman modal jika ingin membuka usaha sampingan.
"Kenapa koperasi? Karena ini entitas bisnis yang berpihak pada rakyat. Saya berharap teman-teman pekerja memilih kendaraan ekonomi seperti koperasi yang sifatnya profesional dan inovatif. Jadi bisa bersaing," ujar dia di Jakarta, Kamis (12/10/2017).
Menurut Hanif, sebenarnya sebagian besar serikat pekerja di perusahaan telah memiliki unit koperasisendiri. Namun, selama ini pengelolaan koperasi tersebut masih sederhana dan belum profesional.
"Sebenarnya sudah (koperasi serikat pekerja). Tapi kan perkembangannya macam macam. Enggak mutu karena enggak ada biaya," ‎kata dia.
Oleh sebab itu, saat ini dirinya tengah mencari contoh koperasi pekerja yang bisa dijadikan acuan dalam pengembangan badan usaha koperasi. ‎
"Saya lagi cari role model untuk koperasi karyawan yang bagus. ‎Yang bagus modelnya seperti apa. Pengalaman seperti apa, tantangan yang dihadapi seperti apa. Apa yang harus dilakukan agar bisa tumbuh dan profesional," ungkap dia.
Selain itu, Hanif juga berharap perusahaan bisa memberikan dukungan penuh terhadap koperasi-koperasi yang dibentuk oleh serikat pekerjanya. "Koperasi dan manajemen persuahaan tidak berhadap-hadapan tetapi saling mendukung. Sehingga ruang koperasi untuk tumbuh di dalam perusahaan ada," tandas dia.



SUMBER :






STRUKTUR ORGANISASI PT.ASABRI

STRUKTUR ORGANISASI PT.ASABRI MATA KULIAH SUMBER DAYA MANUSIA Sumber :   http://asabri.co.id/page/6/Struktur_Organisasi